Diceritakan oleh ahli tafsir, Nabi Yunus bernama Yunus bin Matta. Ia telah diutuskan oleh Allah untuk berdakwah kepada penduduk di
sebuah tempat bernama "Ninawa". Mereka menyembah berhala dan menyekutukan Allah. Yunus membawa ajaran tauhid dan iman kepada
mereka agar menyembah Allah yang telah menciptakan mereka.
Ajaran-ajaran Nabi Yunus itu bagi para penduduk Ninawa merupakan hal yang baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka
berkata kepada Nabi Yunus:
"Apakah kata-kata yang engkau ucapkan itu dan kedustaan apakah yang engkau anjurkan kepada kami tentang agama barumu itu?
Percayalah bahawa engkau tidak akan dapat pengikut diantara kami.
Nabi Yunus menjawab:
"Aku hanya mengajak kamu beriman dan bertauhid menurut agamaku sebagai amanat Allah yang wajib ku sampaikan kepadamu. Aku tidak
memaksamu untuk mengikutiku. Aku hanya mengingatkan kepadamu bahawa bila kamu tetap membangkangku, nescaya Allah kelak akan
menunjukkan kepadamu azab seksa-Nya di atas kamu.
Nabi Yunus tidak tahan tinggal dengan lebih lama di tengah-tengah kaum Ninawa yang keras kepala itu. Lalu ia meninggalkan Ninawa
dengan marah seraya memohon kepada Allah untuk menjatuhkan hukumannya atas orang-orang tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Yang bermaksud,
“Ketika dia pergi dalam keadaan marah.” (Al-Anbiya: 87)
Sepeninggalan Nabi Yunus, penduduk Ninawa mulai melihat hukuman Allah membawa kehancuran dan kebinasaan. Mereka melihat keadaan
udara disekeliling Ninawa semakin gelap, dan angin dari segala penjuru bertiup dengan kencangnya membawa suara gemuruh yang
menakutkan.
Dalam keadaan panik dan ketakutan itu, segeralah mereka menyatakan taubat dan memohon ampun atas segala perbuatan mereka, dan
berasa menyesal atas perlakuan dan sikap kasar yang menjadikan Nabi Yunus marah dan meninggalkan daerah itu.
Untuk menebus dosa, mereka keluar dari kota dan menangis memohon ampun dan rahmat Allah agar dihindarkan dari bencana azab dan
seksaan-Nya. Dengan itu, Allah menurunkan rahmat-Nya kepada mereka. Udara gelap yang meliputi Ninawa menjadi terang dan tenang.
Kemudian kembalilah orang-orang itu dan kerumah masing-masing dengan penuh rasa gembira dan syukur kepada Allah yang telah
menerima doa dan permohonan mereka.
Adapun tentang keadaan Nabi Yunus yang meninggalkan kota Ninawa, baginda telah berjalan kaki sehingga sampai disebuah pantai. Di
situ, terdapat sebuah kapal yang dipenuhi penumpang dan barangan.
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
Yang bermaksud,
“ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan.” (Ash-Shaffat: 140)
Nabi Yunus 'alaihissalam naik ke kapal yang sudah penuh dengan penumpang dan barangan. Sampai di tengah lautan, kapal tersebut
mulai memperlihatkan tanda-tanda akan tenggelam. Saat itu hanya ada dua pilihan, pertama, mereka tetap bersama-sama di atas kapal
tapi tenggelam semua, atau kedua, satu per satu dilemparkan ke laut untuk meringankan muatan kapal dan menyelamatkan yang lain.
Akhirnya diputuskan untuk memilih yang kedua. Mulailah diundi siapa yang akan dilemparkan ke laut. Termasuk dalam undian itu
adalah Nabi Yunus 'alaihissalam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
“Lalu dia termasuk orang-orang yang kalah.” (Ash-Shaffat: 141)
Yakni, Nabi Yunus 'alaihissalam kalah dalam undian tersebut. Merekapun melemparnya ke laut dan kemudian ditelan oleh seekor ikan
dari dalam laut iaitu ikan Nun
Allah mewahyukan kepada seekor ikan tersebut untuk menelannya dan menyimpannya di dalam perut sebagai amanat Tuhan .Beliau merasa bersedih hati seraya memohon ampun kepada Allah
atas dosa dan tindakan yang salah yang dilakukannya tergesa-gesa.
Di dalam kegelapan perut ikan itu, beliau berdoa:
“Tidak ada Tuhan melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim.” (Al-Anbiya: 87)
Ikan tersebut membawanya memecah gelombang timbul dan tenggelam ke dasar laut.Ikan itu sendiri keletihan setelah berenang cukup jauh. Kemudian ikan itu tertidur di dasar lautan. Sementara itu, Nabi Yunus masih bertasbih kepada Allah SWT. Beliau tidak henti-henti bertasbih dan tidak henti-henti menangis. Beliau tidak makan, tidak minum, dan tidak bergerak. Beliau berpuasa dan berbuka dengan tasbih. Ikan-ikan yang lain dan tumbuh-tumbuhan dan semua makhluk yang hidup di dasar lautan mendengar tasbih Nabi Yunus. Tasbih itu berasal dari perut ikan paus ini. Kemudian semua makhluk-makhluk itu berkumpul di sekitar ikan paus itu dan mereka pun ikut bertasbih kepada Allah SWT. Setiap dari mereka bertasbih dengan caranya dan bahasanya sendiri.
Ikan paus yang memakan Nabi Yunus itu terbangun dan mendengar suara-suara tasbih begitu riuh dan gemuruh. Ia menyaksikan di dasar lautan terjadi suatu perayaan besar yang dihadiri oleh ikan-ikan dan haiwan-haiwan lain, bahkan batu-batuan dan pasir semuanya bertasbih kepada Allah SWT.
“Tidak ada Tuhan melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim.” (Al-Anbiya: 87)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam kisah Nabi Yunus 'alaihissalam ini:
“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu
sampai hari berbangkit.” (Ash-Shaffat: 143-144)
Setelah selesai menjalani hukuman Allah, selama beberapa waktu yang telah ditentukan, ditumpahkanlah Nabi Yunus oleh ikan yang
menelannya itu dan dilemparkannya ke darat . Ia terlempar dari mulut ikan ke pantai dalam keadaan kurus, lemah dan sakit. Akan
tetapi Allah dengan rahmat-Nya menumbuhkan di tempat ia terdampar sebuah pohon labu yang dapat menaungi Yunus dengan daun-daunnya
dan menikmati buahnya.
Setelah Nabi Yunus sembuh dan menjadi segar kembali, baginda diperintahkan oleh Allah agar pergi kembali mengunjungi Ninawa. Dan
alangkah terkejutnya Nabi Yunus tatkala masuk Ninawa, baginda tidak melihat satu pun patung berhala berdiri. Semua penduduk Ninawa
telah beriman kepada Allah. Iman telah menyelamatkan penduduknya dari ketakutan dan kesulitan sebagaimana Allah Subhanahu wa
Ta'ala firmankan:
“Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Al-Anbiya: 88)
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui akan sesuatu perkara dan kita hendaklah segera bertaubat kepadaNya di atas kesalahan yang telah
kita lakukan dengan penuh keinsafan dan ketaqwaan.
This entry was posted
on Sunday, October 24, 2010
at 9:20 PM
and is filed under
Yunus bin Matta
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.
